Jumat, 16 Maret 2012

Ketika Ajal Tiba


HAL YANG PALING MENGAGUMKAN DI DUNIA
Suatu ketika Yamaraja bertanya kepada Maharaja Yudhisthira, “Apakah hal yang paling mengagumkan di dunia ini?” Maharaja Yudhisthira menjawab :
ahany ahani bhutani
gacchantiha yamalayam
setah sthavaram icchanti
kim ascaryam atah param
“ Setiap hari ratusan bahkan jutaan makhluk hidup pergi ke kerajaan kematian. Tetapi tetap saja, mereka yang masih hidup ingin mendapatkan keadaan yang kekal. Apa yang lebih mengagumkan lagi dari hal ini ? ”
(Mahabharata, Vana-parva 313.116).
Ratusan dan ribuan makhluk hidup menghadapi ajalnya setiap saat, tetapi makhluk hidup yang bodoh berpikir dirinya tak akan mati dan tidak mempersiapkan dirinya dalam menghadapi kematian. Inilah hal yang paling mengagumkan di dunia ini. Semua orang akan mati karena mereka sepenuhnya berada dibawah kendali alam material, tapi tetap saja mereka berpikir bahwa mereka bebas, mereka bisa melakukan apa saja yang mereka inginkan, mereka merasa tak akan mati tetapi hidup selamanya, dan seterusnya.
Mereka yang namanya saja ilmuwan membuat berbagai macam rencana untuk membuat makhluk hidup dimasa depan dapat hidup selamanya, tetapi disaat mereka mengejar pengetahuan ilmiah tersebut, seiring berjalannya waktu, Yamaraja sebagai dewa kematian, akan menyingkirkan mereka dari usaha penelitiannya itu.
MEMPERSIAPKAN MENTAL DISAAT AJAL
yam yam vapi smaran bhavam
tyajaty ante kalevaram
tam tam evaiti kaunteya
sada tad bhava-bhavitah
“Keadaan hidup manapun yang diingat seseorang pada saat ia meninggalkan badannya, pasti keadaan itulah yang akan dicapainya, wahai putera Kunti”.
(Bhagavad Gita 8.6).
Seperti disebutkan di atas, mentalitas seseorang disaat menghadapi kematiannya sangatlah penting. Tetapi jika kita merasa acuh dan berpikir, “oh, kematian akan datang – apa masalahnya?” maka kita tidak bisa maju didalam jalan spiritual. Seperti halnya udara membawa keharuman, jadi mentalitas seseorang pada saat kematian akan membawanya pada bentuk kehidupan berikutnya.
Jika saya seorang pengusaha. Yang saya lakukan hanyalah berbisnis sepanjang hidup hingga ajal tiba, secara alami mentalitas saya akan menjadi pengusaha.
Seorang pengusaha dari Jakarta pada saat kematiannya bertanya tentang manajemen pabriknya. Pada kehidupan selanjutnya ia mungkin akan lahir sebagai tikus di pabrik miliknya. Hal seperti ini bisa saja terjadi, Pada saat kematian apapun yang kau pikirkan akan membawamu kepada jenis badan tertentu pada kehidupan selanjutnya.
Yang Maha Pengasih (Tuhan) sangatlah baik hati, dan apapun mentalitas yang membuat seseorang terserap disaat kematian, Tuhan akan memberinya jenis badan yang sesuai: “Baiklah, kau berpikir seperti seekor tikus ? jadilah seekor tikus.” “Kau berpikir seperti seekor harimau ? jadilah harimau.” “Kau berpikir seperti penyembahKu ? maka datanglah padaKu.”
Bagaimana seseorang dapat meninggal dunia dengan keadaan pikiran yang benar ? Walaupun Maharaja Bharata adalah kepribadian yang mulia, beliau memikirkan seekor rusa pada akhir riwayatnya dan sebagai akibatnya dalam penjelmaan berikutnya ia diubah sehingga memiliki badan seekor rusa. Setelah menjadi rusa, dia tetap mengenang kegiatannya pada masa lampau, namun ia terpaksa menerima badan sebagai binatang seperti itu. Tentu saja pikiran seseorang selama kehidupannya, menumpuk untuk mempengaruhi pikirannya pada saat ia meninggal. Jadi, kehidupan ini menciptakan penjelmaan yang akan datang. Kalau dalam kehidupan sekarang seseorang hidup dalam sifat kebaikan dan selalu berpikir tentang Tuhan
dimungkinkan ia dapat ingat kepada Tuhan pada saat akhir riwayatnya.
Kalau ia ingat kepada Tuhan pada akhir riwayatnya, itu akan membantu dirinya untuk dipindahkan ke alam rohani Tuhan. Kalau seseorang khusuk berpikir secara rohani dalam pengabdian kepada Tuhan Yang Maha Esa yang bersifat pribadi (Saguna Brahman), maka badan berikutnya akan bersifat rohani (spiritual), bukan material. Karena itu, cara mengucapkan mantra atau Nama-nama suci Tuhan adalah cara terbaik untuk mencapai sukses dalam mengubah keadaan hidup pada akhir riwayat.

AJAMILA, CERITA DIAMBANG KEMATIAN
Di sebuah kota yang dikenal dengan Kanyakubja (sekarang di India dikenal dengan Kanauj) hidup seorang brahmana yang bernama Ajamila yang menikahi seorang pelacur dan kehilangan semua kualitas kebrahmanaannya karena pergaulannya dengan wanita kelas rendah itu. Ketika itu Ajamila berusia 20 tahun dan dari pelacur itu ia mendapatkan 10 anak. 88 tahun dari kehidupannya dilaluinya dengan kegiatan berdosa, mencuri, berjudi untuk menghidupi keluarganya. Anaknya yang paling kecil diberi nama Narayana, yang secara alami menjadi kesayangan kedua orang tuanya. Ketika dia hampir berusia 90 tahun, kematiannya sudah didepan mata. Pada saat itu kebanyakan anaknya telah tumbuh dewasa, dan secara alami ia menjadi sangat terikat kepada anaknya yang paling kecil, Narayana.
Pada saat kematiannya tiba, Ajamila melihat 3 orang aneh yang menyeramkan siap menjemputnya ke tempat Yamaraja, dewa kematian. Ajamila menjadi sangat ketakutan, dan mulai memanggil anaknya yang sedang bermain di dekatnya. Dengan suara keras dan airmata mengalir deras, entah bagaimana ia menyebut nama suci Narayana.
Walaupun Ajamila tidak bermaksud menyebut nama suci Narayana, melainkan ia hanya bermaksud memanggil nama anaknya, tetapi utusan Sri Visnu, para Visnuduta segera datang karena mendengar nama Tuannya itu. Utusan Yamaraja pada saat itu menarik roh Ajamila dari badannya, tetapi para Visnuduta melarangnya melakukan hal itu. Setelah memberikan penjelasan kepada Yamaduta tentang nama suci sebagai dharma tertinggi, Visnuduta melepas Ajamila dari ikatan Yamaduta dan menyelamatkannya dari kematian yang sudah didepan mata, kemudian Yamaduta kembali kepada Yamaraja dan menjelaskan semua yang terjadi. Ajamila sekarang telah bebas dari rasa takut dan bersujud kepada para Visnuduta, ketika ia ingin mengatakan sesuatu Visnuduta pun menghilang.
Karena pergaulannya dengan Visnuduta Ajamila menjadi bebas dari rasa ketertarikan material dan pergi ke Hardwar di tepi sungai Ganga. Di sana ia melihat Visnuduta dan meninggalkan badan materialnya untuk mendapatkan kembali badan rohaninya, kemudian bersama Visnuduta pergi dengan pesawat rohani ke tempat tinggal Sri Visnu.
THE FINAL DESTINATION (TUJUAN AKHIR)
Kemanakah tujuan kita berikutnya dan dimanakah tujuan akhir kita, dijelaskan oleh Sri Krishna kepada Arjuna di dalam Bhagavad gita;
yanti deva vrata devan
pitrn yanti pitr vratah
bhutani yanti bhutejya
yanti mad yajino ‘pi mam
“Orang yang menyembah dewa-dewa akan dilahirkan di antara para dewa, orang yang menyembah leluhur akan pergi ke leluhur, orang yang menyembah hantu dan roh halus akan dilahirkan di tengah-tengah makhluk seperti itu, dan orang yang menyembah-Ku akan hidup bersama-Ku”
(Bhagavad Gita 9.25)
Dengan ayat yang penting ini, mudah sekali kita mengerti bahwa seseorang dapat mencapai planet-planet surga hanya dengan menyembah para dewa, atau mencapai planet-planet pita (leluhur) dengan menyembah pita, atau mencapai planet-planet hantu dengan mempraktekan ilmu hitam, mengapa seorang penyembah yang murni tidak dapat mencapai planet Tuhan (kahyangan) ?
Sayang sekali, banyak orang tidak mempunyai keterangan tentang planet-planet yang mulia tersebut, yaitu tempat tinggal Yang Maha Pengasih, dan oleh karena mereka belum mengetahui tentang planet-planet itu, mereka jatuh. Orang yang tidak mengakui bentuk pribadi Tuhan juga jatuh dari brahmajyoti.
Yang Maha Pengasih Bersabda:
mam upetya punar janma
dukhalayam asasvatam
napnuvanti mahatmanah
samsiddhim paramam gatah
“Sesudah mencapai kepada-Ku, roh-roh yang mulia, yogi-yogi dalam bhakti, tidak pernah kembali ke dunia fana yang penuh kesengsaraan, sebab mereka sudah mencapai kesempurnaan tertinggi”.
(Bhagavad Gita 8.15)
Oleh karena dunia material yang bersifat sementara ini penuh kesengsaraan, kelahiran, usia tua, penyakit, dan kematian, sewajarnya orang yang mencapai kesempurnaan tertinggi hingga memasuki planet tertinggi, Krishnaloka, Goloka Vrndavana, tidak ingin kembali lagi ke sini. Planet yang paling utama diuraikan dalam Veda dengan kata-kata avyakta, aksara, dan parama gati. Dengan kata lain, planet itu di luar penglihatan material kita, dan tidak dapat diuraikan. Tetapi planet itu adalah tujuan tertinggi, tujuan para mahatma (roh-roh yang mulia). Para mahatma menerima amanat-amanat rohani dari para penyembah yang sudah insaf akan dirinya. Dengan cara demikian berangsur – angsur mereka mengembangkan bhakti dalam kesadaran Krishna dan menjadi begitu khusuk dalam pengabdian rohani sehingga mereka tidak ingin lagi naik tingkat sampai planet material manapun, atau bercita-cita dipindahkan ke suatu planet rohani. Mereka hanya ingin Krishna dan pergaulan bersama- Krishna; mereka tidak menginginkan sesuatu selain itu. Itulah kesempurnaan hidup tertinggi.
Mungkin sekarang kita telah mengetahui semua hal di atas, tetapi terkadang angan angan pikiran kita berkata, “Jika saya tua nanti dan sudah tidak mampu bekerja lagi, barulah saya akan mulai mengikuti kesadaran Krishna”. Tetapi kematian mungkin akan datang sebelum kita tua atau kita sudah terlalu lemah pada saat tua. Seperti doa raja Kulasekhara;
krsna tvadiya pada pankaja panjarantam
adyaiva me visatu manasa raja hamsah
prana prayana samaye kapha vata pittaih
kanthavarodhana vidhau smaranam kutas te
“ Oh Tuhan, pada saat ini semoga raja angsa pikiran saya memasuki jaringan pada tangkai bunga padma di kaki-Mu, bagaimana mungkin bagiku untuk mengingat-Mu disaat kematian, ketika tenggorokan saya tersedak oleh lendir, dahak, dan udara?”.
(mukunda-mala stotra 33)
Untuk itulah jangan membuang-buang waktu lagi ucapkan Nama suci Tuhan secara teratur  dan berbahagialah .
 
Hare Krishna Hare Krishna
Krishna Krishna Hare Hare
Hare Rama Hare Rama
Rama Rama Hare Hare

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan Tulis KOmentar anda, Kritik & saran selalu saya terima: